Oleh : Dr. Abad Badruzzaman, M.Ag
Judul: Al-Qur`an Berjalan, Potret Keagungan Manusia Agung

Penulis: DR. ‘A’id ‘Abdullah al-Qarni

Penerjemah: Abad Badruzaman

Penerbit: Sahara Publishers, Jakarta

Cetakan: I, 2004

Tebal: 399 halaman.

Membincang pribadi Muhammad ibarat menyelami lautan nan luas. Mutiara yang ditemukan di dasarnya hanyalah satu dari sekian mutiara yang jumlahnya tak terhingga. Keindahan dasar laut yang terlihat di sekitar penyelam hanyalah satu dari berjuta panorama lautan yang mahakaya. Membicarakan manusia agung bernama Muhammad Saw. ibarat kerkelana di hamparan sahara yang teramat luas. Sebelum seluruh hamparan sahara terjelajahi, si pengelana mungkin sudah tutup usia. Segala kekaguman dan pujian kita tentang sosok Muhammad tak lebih dari sebutir mutiara di antara mutiara-mutiara keagungan beliau yang tak terhingga jumlahnya. Atau ibarat sebutir pasir di tengah hamparan sahara kemuliaan beliau yang tak berbatas. Semua shalawat dan salam yang dipanjatkan umat Islam untuk Muhammad Saw. tidak akan mampu memenuhi hak beliau untuk dipuji, diagungkan dan dimuliakan. Betapa tidak, Allah dan malaikat-Nya sekali pun memanjatkan shalawat untuk pribadi agung itu (QS. Al-Ahzâb [33] 56).

Banyak karya yang mengupas sosok dan keagungan Muhammad Saw. Salah satunya adalah buku berjudul Al-Qur`an Berjalan; Potret Keagungan Manusia Agung. Secara umum, buku ini memberi tekanan pada aspek akhlak dan budi perkerti. Mengapa demikian? Sebab, seperti diisyaratkan oleh penulisnya, predikat apapun yang disandangkan kepada beliau, pada akhirnya akan bermuara pada sosok kepribadian dan keagungan akhlaknya (hlm. 15-26). Penulis juga ingin menggiring pembaca kepada pemahaman bahwa akhlak mulia dan budi pekerti luhur yang dimiliki oleh baginda Rasulullah merupakan kunci sukses dakwah yang diemban oleh beliau (hlm. 309-370).

Beberapa sampel kemuliaan pribadi Rasulullah Saw., baik pra kenabian, menjelang kenabian, maupun masa-masa awal dakwah beliau di Mekah, dibeberkan dengan gamblang dan cukup “menggugah”. Dengan gaya bahasa yang lebih mirip bahasa ceramah, penulis mengajak pembaca untuk “hidup” bersama Rasulullah menjalani hari-harinya.

Dengan cukup lugas dan tajam penulis mengupas sejarah Muhammad Saw. setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, tepatnya kisah perjuangan beliau pada masa-masa awal di Mekah yang dapat dibilang sebagai masa-masa sulit dalam perjalanan dakwah Islam. Masa di mana penentangan, cercaan, cemoohan, bahkan gangguan fisik tak jarang diperagakan oleh kaum musyrik Mekah. Yaitu orang-orang yang dulu, sebelum Muhammad menyatakan diri sebagai utusan Allah, kerap memuji beliau akan keindahan dan kemuliaan akhlaknya. Tentu mereka masih ingat ketika menjuluki Muhammad sebagai al-Amîn (orang yang jujur terpercaya). Namun begitulah, para penggede Quraisy dan pentolan kaum musyrik Mekah lebih melihat Muhammad sebagai ancaman ketimbang pembawa kebaikan bagi mereka. Ya, bagi mereka Muhammad Saw. memang ancaman, karena beliau mengobarkan perlawanan terhadap segala bentuk penyimpangan akidah dan menyatakan pemberontakan terhadap tatanan sosial yang zalim dan eksploitatif (hlm. 107). Tema seruan Muhammad ini sungguh menyentuh hati “kaum kusam” Mekah, yakni para budak dan mereka yang teraniaya hak-hak hidupnya. Tak heran jika kemudian kebanyakan pengikut awal Muhammad berasal dari kalangan hamba sahaya dan orang-orang yang secara sosial-ekonomi terhitung wong cilik (hlm. 167).

Penulis sadar, membincang kisah dakwah Muhammad Saw. sama dengan memunculkan kisah perjuangan beliau pada dua peride dakwahnya, yakni periode Mekah dan Madinah. Karena itu, setelah mengajak pembaca merenungkan perjuangan Muhammad di Mekah, penulis “membawa” pembaca ke Madinah. Di sini penulis memunculkan kisah pengepungan kota Madinah (perang Ahzâb) seraya menujukkan keberanian Nabi bersama para sahabat bersatu bahu-membahu melawan kekuatan koalisi kaum kafir yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Bani Fizarah dan Bani Ghathfan. Kisah pengepungan ini berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin (hlm. 213).

Namun tidak semua lembaran dakwah Madinah berisi kisah kemenangan. Perang Uhud merupakan salah satu kisah sedih yang tidak mungkin dilupakan dalam sejarah perjuangan Islam dalam menegakkan kebenaran. Perang ini dikupas dengan cukup mendalam. Kedalaman kupasannya disempurnakan dengan menampilkan beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari perang yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin tersebut (hlm. 193).

Membincang kisah Nabi Muhammad Saw. tidak akan sempurna jika yang ditinjau hanya aspek dakwahnya saja. Maka, dengan tepat penulis membidik sosok Muhammad Saw. pada sisi akhlak dan perilakunya. Dalam tinjauan penulis, setidaknya ada enam butir keunggulan akhlak Muhammad Saw., yaitu ketawadhuan, kemurahan hati, kesabaran, kesantunan, keberanian, dan kezuhudan (hlm. 263-270).

Jika diakui bahwa Muhammad adalah pribadi agung, lalu apa sebenarnya rahasia sukses dakwah yang diembannya? Penulis nampaknya sadar bahwa pertanyaan semacam itu pasti muncul ketika nama Muhammad Saw. dibicarakan. Menurut penulis, ada sepuluh kunci sukses dakwah yang diemban Rasulullah Saw., yaitu: (1) bekal tauhid yang benar dan tawakkal yang mantap; (2) semangat yang membaja (ath-thumûh); (3) komitmen dan keteguhan (tsabât); (4) mengenyampingkan kenikmatan duniawi; (5) pengorbanan dan perjuangan yang lestari; (6) menjadikan ibadah sebagai bekal perjuangan; (7) menempuh metode yang benar dan tepat; (8) mengamalkan apa yang diserukan; (9) proporsional dalam memanfaatkan potensi; (10) menjanjikan ridha Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi kepada para pengikutnya (hlm. 309-370). Di sini penulis agaknya hendak menjelaskan bahwa kegungan akhlak dan keluhuran pribadi Muhammad Saw. mengejewantah dalam sepuluh perilaku di atas yang kesemuanya merupakan kunci sukses dakwah yang diusung oleh beliau.

&

Di samping sejumlah kelebihan yang ada, buku ini memiliki beberapa titik lemah. Ketika membaca buku ini, pembaca akan mendapat kesan bahwa sebelum menjadi buku, semula ia merupakan kumpulan ceramah. Kesegaran dan retorika ceramah masih sangat kental. Kenyataan ini tentu bukan sepenuhnya tanggung jawab pengarang. Penyunting bahasalah yang mesti cakap mengolah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan.

Ketika berbicara tentang perang Uhud dan perang Ahzab, kita mengharapkan kajian kesejarahan lebih dikedepankan dan mendapat porsi yang dominan ketimbang kajian akhlak. Namun yang kita dapatkan adalah sebaliknya. Meski sejak awal penulis buku telah mengatakan bahwa tujuan dari buku ini adalah menunjukkan keagungan pribadi dan keluhuran akhlak Rasulullah, namun kiranya ketika pembahasan berkaitan langsung dengan aspek kesejarahan seperti kisah peperangan dalam Islam, maka—tanpa mengenyampingkan kajian akhlak—porsi kajian historis hendaknya lebih mengemuka.

Bahwa sosok yang dibicakan oleh buku ini adalah manusia agung yang layak dipuji dan dimuliakan, tak dapat dibantah. Tapi persoalannya, pembaca tentu tidak ingin buku yang dibacanya lebih mirip buku kumpulan puji-pujian seperti kitab al-Barjanzi atau qasidah Burdah. Sementara itu, buku ini terasa agak berlebihan ketika memuji dan menyanjung tokoh sentral yang sedang dibicarakannya. Pujian bukan tidak perlu, tapi yang lebih penting lagi adalah mengaitkan setiap pembahasan tentang ketokohan dan kebesaran Muhammad Saw. dengan realitas kekinian umat beliau. Ketika memaparkan enam sisi kepribadian Muhammad (hlm. 263-270) misalnya, kita menginginkan pemaparan yang mengaitkan langsung keenam sisi tersebut dengan sikap dan pola perilaku umat Islam dewasa ini yang kebanyakannya jauh dari nilai-nilai ideal kenabian.

‘Ala kulli hal, buku ini setidaknya dapat menjadi bahan bacaan sekaligus bahan renungan tentang keagungan akhlak dan keluhuran pribadi Muhammad Saw., melengkapi bacaan dengan tema serupa yang telah ada.

Wallâhu a’lam

Oleh : Dr. Abad Badruzzaman, M.Ag
Bangsa Indonesia saat ini merupakan salah satu bangsa di dunia yang sangat merindukan munculnya seorang pemimpin yang adil. Angka kemiskinan yang tinggi, pengangguran yang merajalela, jurang kesenjangan yang menganga, tingkat pendidikan rakyat yang rendah, rasa aman yang kian menipis, dan persoalan lainnya adalah sederet nestapa negeri ini. Semua itu meniscayakan kehadiran seorang pemimpin bangsa yang bukan hanya fasih mengidentifiksi persoalan-persoalan bangsa, namun—yang lebih penting—cakap menyelesaikan segenap persoalan tersebut dalam waktu yang tidak terlalu menguras kesabaran rakyat.

Siapapun yang akhirnya menjadi orang nomor satu di negeri ini, haruslah menjadi seorang pemimpin yang adil. Kata “pemimpin yang adil” sendiri sesungguhnya merupakan penyederhanaan kata. Di balik kata tersebut tersimpan sekian piranti penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar layak disebut sebagai pemimpin yang adil. Di antara piranti penting itu adalah:

Pertama, sandaran vertikal yang kuat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama—paling tidak secara formal. Seorang yang memimpin bangsa seperti itu haruslah membekali dirinya dengan nilai-nilai dan semangat spiritual yang menjadikan dirinya senantiasa merasa diawasi, bukan saja oleh rakyat yang nampak, tetapi yang lebih penting oleh Yang Maha Melihat. Penglihatan rakyat bisa saja dikelabui dan karenanya pengadilan mereka bisa saja dihindari dengan beribu dalih dan ditutupi dengan bermacam topeng. Tapi pengadilan Yang Maha Waspada, tidak seorang pun dapat lepas dan lari darinya. Jika pengadilan dunia bisa ‘diakali’, lalu siapa yang bisa menghindar dari datangnya hari penghisaban amal kelak atas semua orang untuk setiap tindakannya?

Kedua, semangat yang membaja, komitmen dan keteguhan hati. Tidak cukup hanya menjadi orang saleh untuk bisa menjadi pemimpin yang baik. Persoalan di negeri ini begitu kompleks dan berat. Orang yang terpilih memimpin negeri ini haruslah mengerahkan seluruh kemampuan dan sebagian besar waktunya untuk memberikan solusi terbaik bagi setiap persoalan pelik yang dihadapi bangsa. Puluhan juta rakyat yang dililit kemiskinan, jutaan anak yang tak dapat bersekolah, puluhan juta usia kerja yang menganggur, gap kaya-miskin yang kian menganga, semua itu menghajatkan seorang pemimpin yang mempunyai semangat untuk bersungguh-sungguh menyelamatkan puluhan juta anak negeri yang sedang diterpa beraneka penderitaan.

Ketiga, sederhana dan bersahaja. Orang miskin akan lebih merasa sakit hatinya ketika melihat di sekelilingnya orang-orang kaya memamerkan kekayaannya. Anak-anak putus sekolah akan lebih teriris perasaannya ketika melihat anak-anak seusianya berpakaian seragam menggendong tas pergi ke gedung-gedung sekolah yang dibangun pemerintah dengan uang rakyat. Dan rakyat yang sengsara akan lebih terkoyak nuraninya ketika pemimpin negerinya hanya pintar melantunkan nyanyian pemerataan kesejahteraan saat berkampanye saja. Sementara itu, setelah terpilih, sang pemimpin lebih giat membagi-bagikan kue kekuasaannya kepada orang-orang partainya atau kelompoknya sendiri sambil mendata jumlah kekayaannya dan meningkatkan saldo tabungannya. Pemimpin rakyat miskin tentu tidak harus menjadi miskin seperti mereka. Yang harus ia miliki adalah kepekaan yang tinggi akan nasib rakyatnya sembari melakukan upaya-upaya terukur, terpadu dan terarah dalam rangka mengentaskan setiap persoalan yang melilit rakyatnya. Akan lebih kuat dukungan dari rakyatnya jika semua itu dilakukan sambil menampilkan diri sebagai sosok pribadi yang sederhana dan bersahaja.

Keempat, pengorbanan dan perjuangan yang lestari. Sebuah pepatah mengatakan, “Sayyidul qaumi khadimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).” Seorang pemimpin sejati bukanlah yang hanya pandai berteriak membangkitkan semangat rakyatnya, tapi yang lebih penting, menjadi teladan bagi mereka. Ia adalah orang yang berada di garis paling depan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan persoalan rakyatnya. Ketika KKN menggerogoti pilar-pilar negeri ini, ia adalah orang pertama yang membersihkan dirinya dari anasir KKN sekaligus memberantasnya di dalam tubuh pemerintahannya, meski untuk itu ia menghadapi sejumlah tantangan dan rintangan. Perjuangannya untuk menegakkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa tidak pernah kendur.

Kelima, menempuh metode yang benar dan tepat. Semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa tidak banyak membantu jika tidak disertai kecermatan yang tepat lagi benar dalam menentukan pola dan cara kerja. Termasuk dalam kerangka ini, ketepatan menunjuk para pembantu dan kecakapan menggali potensi yang dimiliki oleh mereka. Dalam menunjuk para pembantu, seorang pemimpin harus menghilangkan prinsip ‘bagi-bagi kursi’ kepada mereka yang telah berjasa melempangkan jalannya menuju kursi paling bergengsi di negeri ini. Prinsip the right man in the right place harus dipedomani dan diaplikasikan dengan benar.

Keenam, belajar dan terus belajar. Menduduki kursi paling terhormat di satu negeri sama sekali tidak berarti seseorang boleh berhenti belajar. Ia harus terus memupuk akal nalar dan hati nuraninya dengan bermacam rupa ilmu dan kebijaksanaan, terutama yang menunjang tugasnya sebagai pengayom rakyat, penegak keadilan, penabur kesejahteraan, penyemai pemerataan, pengamal pertama hukum dan perundang-undangan serta sederet tugas mulia sekaligus berat lainnya.

Dari para pendahulunya seorang pemimpin harus banyak belajar tentang banyak hal. Ia, misalnya, harus sadar betul bahwa meski negara ini bukan negara agama, akan tetapi nilai-nilai spiritual mesti mendasari semua sendi kehidupan bangsa. Dengan demikian, paham, aliran atau ajaran apapun yang coba merenggut nilai-nilai spiritual dari akal pikir dan moralitas bangsa haruslah dicegah jangan sampai tumbuh di negeri yang rakyatnya meyakini ajaran-ajaran agama ini.

Dalam bidang ekonomi, seorang pemimpin harus paham benar bahwa geliat dan kemajuan ekonomi yang hendak dicapai haruslah dibangun di atas pondasi yang kuat. Harus ditegakkan di atas kekaryaan dan kemandirian bangsa yang tahan akan guncangan kala badai krisis menerpa, bukan atas dasar tumpukan hutang dan pinjaman asing. Serta harus dibangun di atas paham ekonomi kerakyatan, di mana rakyat kecil dilibatkan sebagai subjek sekaligus objek pembangunan ekonomi. Rakyat kecil harus dipacu semangatnya serta diberdayakan untuk sama-sama membangun sistem perekonomian yang kuat serta memihak kepada mereka, dan hasilnya dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kesejahteraan mereka.

Dalam bidang politik, pemimpin yang sedang berkuasa harus sepenuhnya sadar bahwa kebutuhan mendasar rakyat yang harus dipenuhi bukan hanya isi perut, penutup tubuh dan tempat tinggal semata. Mereka adalah manusia, makhluk yang selain ingin cukup makan, berpakaian dan punya tempat bernaung, mereka juga mendambakan hawa kebebasan. Bebas bicara, mengemukakan gagasan, saran dan bahkan kritikan terhadap perilaku para pengelola negara yang dianggap menyimpang dari kontrak politik yang telah disepakati antara rakyat dan para pejabat.

Itulah di antara harapan sekaligus pesan rakyat yang harus dicamkan dan diamalkan secara sungguh-sungguh oleh siapapun yang diamanati rakyat untuk memimpin negeri yang kita cintai ini.

Wallahu a’lam.
Sumber :

http://abualitya.wordpress.com

Oleh: Fahmi Islam Jiwanto, MA
dakwatuna.com – Manusia hidup dan digerakkan oleh keinginan. Waktu dan segala yang dimiliki manusia dikonsumsi dan dipergunakan untuk merealisasikan keinginan. Tetapi sebuah pertanyaan menghadang kenyataan aksiomatis ini; yaitu kenginan seperti apa dan keinginan siapa yang patut selalu diikuti?
Manusia dalam posisinya dengan keinginan terbagi menjadi beberapa golongan:
Pertama, manusia yang hanya mengikuti keinginan dirinya. Tidak ada yang penting baginya kecuali yang dia mau. Barangkali dia mengira bahwa dirinya merdeka. Merdeka menentukan segala yang dia mau. Merdeka juga berpikir apa saja yang dia bayangkan. Independensi memang penting untuk membentuk kepribadian. Tanpa independensi seorang manusia hanyalah angka satuan yang tidak terlalu penting di tengah milyaran manusia. Tetapi independensi ada batasnya. Manusia yang tidak mengenal batas dirinya cenderung egois dan egosentris. Lebih jauh bahkan al-Qur’an menyebut manusia seperti ini sebagai manusia yang menyembah hawa nafsunya. Allah berfirman di surat al-Jatsiyah ayat 23:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)
23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jatsiyah: 23)
Rasulullah SAW juga menyebut orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang lemah.
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR at-Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Kedua, manusia yang tidak punya keinginan independen. Dia selalu didorong oleh pihak luar. Lingkungan, teman, orang tua, bahkan seterunya selalu menjadi pusat perhatiannya, dan selalu mendorongnya untuk bereaksi. Orang seperti ini tidak punya pendirian. Apa kata orang itulah katanya. Ke manapun angin berhembus ke sanalah dia berlayar. Orang seperti sangat dikecam Rasulullah, beliau berkata:
لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا. رواه الترمذي
“Janganlah kalian menjadi orang tidak berpendirian, yang mengatakan ‘jika orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik, jika mereka berbuat zhalim, kami juga berbuat zhalim.’ Tetapi kuatkanlah pendirian kalian, jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, jika mereka berbuat zhalim, jangan kalian berbuat zhalim.” (HR at-Turmudzi)
Ketiga, manusia yang selalu berperang antara kemauan dirinya dan kemauan orang lain, dan juga kemauan Sang Pencipta. Dia selalu ingin mendapatkan penerimaan semua pihak tetapi tidak rela mengorbankan keinginan dan ambisi atau syahwatnya. Golongan seperti ini selalu diombang-ambingkan ketidakpastian tujuan. Peperangan sengit dan rumit terjadi dalam diri mereka. Yang mampu menemukan dirinya dalam naungan Allah akan selamat, tetapi yang terus tak mampu menemukan skala prioritas akan hidup dalam pederitaan batin dan gejolak pemikiran yang tak berakhir. Allah membuat perumpamaan terhadap orang seperti ini:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الزمر: 29
29.” Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS az-Zumar: 29)
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ. رواه ابن ماجه والحاكم وحسنه الألباني
“Barang siapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dihasankan oleh al-Albani)
Semoga Allah menyelamatkan kita dari musibah seperti itu.
Keempat, manusia yang menenggelamkan dirinya dalam keinginan Sang Pencipta. Dia hanya menginginkan keridhoan Allah. Dia tahu bahwa dia hanya makhluk yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Manusia golongan ini adalah manusia luhur dan suci. Mereka menghayati firman Allah “Katakanlah bahwa sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
Tetapi beberapa tantangan serius menghadapi mereka. Tidak sedikit kegagalan terjadi jika anak Adam ini tidak berhasil menghadapi tantangan-tantangan tersebut.
Tantangan pertama adalah tantangan pemahaman. Sejauh mana anak manusia memahami apa yang Allah SWT tuntut darinya. Berapa banyak orang yang serius beribadah bahkan mengorbankan segala yang dia miliki untuk suatu hal yang sebetulnya tidak dituntut darinya. Betapa banyak kewajiban ditinggalkan karena melaksanakan ibadah sunah yang tidak prioritas dalam neraca Syariah. Betapa banyak kewajiban kolektif diabaikan padahal itu menyangkut kepentingan umum disebabkan sang manusia lebih asyik dengan ibadah personal yang porsinya bisa dibatasi. Betapa banyak bid’ah yang dianggap sunnah. Betapa banyak sunnah yang dianggap bid’ah.
Tanpa berpegang teguh pada pemahaman yang benar terhadap Qur’an dan Sunnah, sangat sulit seorang muslim dapat dengan tepat melaksanakan peranan dan tugas yang dituntut darinya.
Kesalahan yang paling parah adalah yang terjadi pada golongan yang menganggap bahwa penyerahan diri terhadap Allah adalah bersikap fatalis atau yang dikenal dengan kaum Jabriyah. Bahwa manusia hanya dituntut menyerah pada takdir, tidak perlu berusaha atau merencanakan masa depan yang baik. Iman kepada takdir mereka pahami sebagai sikap pasif terhadap usaha perubahan.
Umar bin Khaththab pernah begitu gusar dengan pemahaman seperti ini, ketika beliau dan beberapa sahabat hendak memasuki daerah yang dilanda wabah. Setelah bermusyawarah akhirnya diputuskan untuk membatalkan kunjungan ke daerah tersebut. Salah seorang sahabat menentang putusan itu, dan berkata, “Apakah kita lari dari takdir Allah?” Umar bin Khaththab terkejut dengan tanggapan tersebut, lalu menjawab, “Iya kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”
Allah mengecam orang-orang yang menggunakan takdir sebagai alasan untuk tidak melaksanakan hal-hal yang seharusnya. Allah berfirman:
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آَبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ
148. “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”(QS al-An’am: 148)
Iman kepada takdir adalah kebenaran yang wajib diyakini, tetapi hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjajah oleh masa lalu, tersiksa oleh penderitaan masa yang telah lewat, atau tertipu oleh sesuatu yang membuat kita terlena. Allah jelaskan dalam surat al-Hadid apa yang dimaksudkan dengan iman kepada takdir, Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
22. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadid: 22-23)
Iman kepada takdir membuat seorang muslim tidak tenggelam dalam penderitaan atau tertipu oleh kenikmatan, karena dia sadar bahwa itu semua sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, Yang Maha Bijaksana dan semua yang Allah tetapkan selalu menyimpan hikmah dan kebijaksanaan. Singkat kata iman kepada takdir dapat menghindarkan sesorang dari pedihnya keputus-asaan dan tipuan kesombongan. Di sisi lain Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat untuk kebaikan dirinya. Rasulullah SAW bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان. رواه مسلم
“Bersunguh-sungguhlah meraih hal yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan melemah. Jika Sesuatu menimpamu janganlah engkau berkata, ‘jika dulu aku lakukan ini pasti terjadi begini atau begitu.’ Tetapi katakanlah, Allah sudah menakdirkan, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Karena kata ‘kalau’ membuka perbuatan setan[1].” (HR Muslim)
Kesalahpahaman lain yang sering terjadi dalam beribadah juga adalah pemahaman bahwa ibadah hanyalah terbatas pada hal-hal ritual. Banyak umat Islam yang masih belum memahami universalitas Islam, bahwa perintah Allah juga mencakup segala kebaikan di berbagai aspek kehidupan. Dengan ringan tangan banyak muslim yang menginfakkan jutaan rupiah untuk pergi haji atau umrah. Tetapi jumlah seperti itu sulit didapatkan untuk membangun proyek-proyek yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama. Umat Islam sadar kalau sholat mereka batal kalau mereka berhadats, tetapi banyak tidak khawatir seluruh amalnya batal karena korupsi, kolusi dan menipu.
Kesalahpahaman yang juga banyak terjadi adalah berlebih-lebihan dan beragama. Ada yang berwudhu tapi sambil membuang air dengan mubadzir, ada yang sibuk mengucapkan niat sampai tidak bisa mengikuti sholat dengan baik dan khusyu’, ada yang sibuk dengan memendekkan pakaian sampai lupa memperhatikan hati dan memperbaiki akhlak. Ada yang terlalu berlebihan dalam masalah-masalah aqidah sampai mengkafirkan sebagian besar umat Islam. Ada yang begitu membenci kekafiran tetapi lupa berdakwah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Begitu bahayanya sikap berlebih-lebihan dalam agama sampai Rasulullah SAW memperingatkan:
وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ. رواه النسائي وابن ماجه والبيهقي والطبراني في الكبير وابن حبان وابن خزيمة وصححه الألباني
“Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR an-Nasa’I, Ibnu Majah, al-Baihaqi, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh al-Albani)
Begitu banyak kesalahan dalam beribadah terjadi karena ketidakpahaman terhadap Islam. Sebagian besar bersumber dari jauhnya umat Islam dari pemahaman yang baik terhadap Qur’an dan Sunnah. Jarak yang terjadi bervariasi, mulai dari yang tidak pernah membaca al-Qur’an sama sekali, sampai yang membaca tetapi tidak memahami maknanya. Ada yang memahami sebagian kecil lalu merasa cukup dan merasa sudah pandai, bahkan mengira bahwa Islam hanya terangkum dalam beberapa ayat dan hadits. Ada yang mengaku mengerti al-Qur’an dan meninggalkan Hadits. Ada juga yang serius dengan hadits Nabi SAW tapi justru meninggalkan al-Qur’an dengan tidak mentadabburi al-Qur’an dengan rutin.
Apakah itu semua karena memahami agama Islam sulit? Sama sekali tidak. Tetapi siapapun yang menghendaki suatu tempat tapi tidak melalui jalan yang sesuai pasti tidak akan sampai tujuan. Seperti dikatakan oleh seorang penyair:
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَمْ تَجْرِ عَلَى يَبَسِ
“Kau harap selamat tapi tidak menempuh jalannya
Sesungguhnya bahtera tidak berlayar di atas daratan kering”
Tantangan kedua dalam ibadah adalah diri manusia itu sendiri. Dia berhadapan dengan hawa nafsunya yang sering menggodanya untuk meninggalkan perintah Allah. Dia akan berhadapan godaan dari luar, tetapi semua terkait dengan kekuatan tekad dan keteguhan pendirian hamba Allah tersebut.
Ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang jelas dilarang barangkali masalah menjadi jelas. Yang lebih rumit adalah ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang samar (syubhat), disini dua persoalan merajut satu sama lain sehingga memperumit tantangan. Yang lebih rumit lagi adalah ketika hawa nafsu mendapatkan pembenaran yang palsu. Ketika dalil-dalil syar’I yang mutasyabihat (yang samar) dapat digunakan untuk membenarkan pelanggaran.
Semua tantangan itu tidak mudah. Karena itu ibadah seorang hamba tidak akan sempurna tanpa memohon pertolongan Allah. Oleh sebab itu poros al-Fatihah yang harus diulang-ulang seorang muslim adalah: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” (Kepada engkau kami menyembah, dan kepada engkau kami memohon pertolongan). Seorang muslim yang menyembah Allah tanpa memohon pertolongan dari-Nya, niscaya akan terjebak dan terjatuh dalam tantangan-tantangan yang sulit dalam perjalan hidup yang penuh dengan ujian.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita. Wallahu waliyyut taufiq.
________________________________________
[1] Yang dimaksud bahwa kalau membuka amal setan dalam hadits ini adalah menyesali masa lalu dan berandai-andai hingga menyiksa diri, padahal masa lalu tak akan diperbaiki hanya dengan penyesalan dan berandai-andai.

Mengatur pola makan merupakan hal yang sangat penting dalam ilmu pengobatan. ”Setiap penyakit ada obatnya,” begitu bunyi salah satu hadis Rasulullah SAW. Para dokter dan ilmuwan Muslim di era keemasan telah berupaya mencari dan menemukan beragam bentuk pengobatan. Yang menarik, dokter-dokter Muslim di zaman kejayaan peradaban Islam mampu menjadikan makanan sebagai obat. Menurut Prof Nil Sari dalam tulisannya bertajuk Food as Medicine in Islamic Civilization, dokter Muslim seperti Ibnu Sina (980-1037 M) dan Ibnu al-Baitar telah berhasil menjadikan makanan sebagai obat. Avicena – begitu masyarakat Barat biasa menyubutnya — pada abad ke-11 M sudah menulis manuskrip tentang diet dan makanan sebagai obat. Sang dokter memasukan resep makanan yang berkhasiat sebagai obat itu dalam ilmu kedpkteran. “Dalam salah satu risalahnya, Ibnu isna menetapkan enam aturan hidup sehat, salh satunya menyatakan bahwa makanan berfungsi obat , melalui diet seimbang,” ungkap Prof Nil Sari, keepala Departemen Sejarah dan Etika Pengobatan dari Universitas Istanbul, Turki. Para dokter Muslim di era keemasan telah menerapkan diet kepada para pasiennya. Makanan telah menjadi bagian terpenting dalam pengobatan, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. “Mengatur pola makan merupakan hal yang sangat penting dalam ilmu pengobatan,” papar Prof Nil Sari. Ilmuwan dan dokter Muslim al-Razi juga menekankan pentingnya penyembuhan penyakit melalui pola makan. “Jika kamu dapat menyembuhkan seseorang dengan diet (mengatur pola makan), maka jangan menyarankan pengobatan,” ujar Prof Nil Sari mengutip pernyataan al-Razi. Pemikiran dan gagasan dari para dokter Muslim terdahulu mengenai fungsi makanan sebagai obat telah diterapkan masyarakat Muslim di era kekuasaan Kekhalifahan Usmani Turki. Menurut Prof Nil Sari, prinsip kesehatan dan nutrisi seimbang dalam pengobatan Turki Usmani didasarkan pada teori “unsur” dan “humours”. Prof Nil Sari mengungkapkan, tubuh manusia memiliki empat unsuratau sifat, yakni; panas, dingin, basah, dan kering. Selain itu, dalam tubuh manusia juga terdapati empat zat cair atau humours, yakni darah, dahak/lendir, cairan empedu kuning dan cairan empedu hitam. Berdasarkan teori unsur dan humoural yang ada dalam tubuh manusia, makanan diklasifikan dalam empat jenis. Menurut Prof Nil Sari, makanan dan minuman dapat mempengaruhi keseimbangan humoural. “Makanan dan minuman secara alami membangkitkan darah. Karena penyakit juga terdiri dari panas, dingin, kering dan basah, penyakit bisa dirawat dengan makanan atau pengobatan,” ujarnya. Makanan dan minuman yang berpengaruh dalam keseimbangan humoral juga diklasifikasikan berdasarkan teori elemen seperti panas, dingin, kering, serta basah. Menurut Prof Nil Sari, penyakit pun terdiri dari empat jenis, yakni panas, dingin, kering dan basah. ”Setiap penyakit ditangani dengan makanan dan obat yang memiliki kualitas yang berlawanan,” paparnya. Menurut Prof Nil Sari, makanan dingin bisa membentuk dahak, conrohnya, ketimun, labu, serta selada. Makanan dingin menyebabkan kelemahan. Makanan panas, lanjut dia, secara alami membentuk cairan empedu kuning. Makanan panas adalah makanan yang mengandung rempah-rempah dan bumbu, seperti jahe, lada, ketumbar kering, kayu manis, bawang serta bawang putih. ”Sedangkan makanan kering akan membentuk empedu hitam, itu karena sifatnya melankolis,” paparnya. Makanan jenis ini, kata dia, bisa membuat seseorang yang kehilangan nafsu makan dan sembelit. Makanan yang termasuk jenis itu antara lain; padi, kacang-kacangan dan daging kering. Jenis makanan lainnya adalah makanan basah. Makanan jenis ini memiliki ciri tak terlalu berasa asin, manis, asam atau pahit. Makanan ini dapat mengurangi efek. Mie dan bayam yang dimasak dengan nasi dan daging merupakan contoh makanan basah. Menurut Prof Nil Sari, makanan juga diklasifikasikan berdasarkan pencernaan, yakni makanan lembut dan makanan Makanan lembut bisa membantu membantu mengusir residu dalam makanan. Mengkonsumsi makanan lembut berfungsi untuk memanaskan darah serta memproduksi cairan empedu kuning. Makanan seperti ini, lebih banyak terkandung dalam sayuran (terutama lobak dan sawi), kaldu daging, kuning telur, hati, daging domba dan kacang dan sup buncis, burung merpati muda, burung pipit, acarn bawang, bawang putih, acar lobak dengan cuka, acar gula bit dengan sawi. Prof Nil Sari menambahkan, makanan seperti roti gandum murni, buah yang masak di pohon, serta buah ara matang bisa memberikan kekuatan penuh. Prof Nil juga memaparkan sayuran dan buahan merupakan makanan yang menyembuhkan. Contohnya, buah ara, anggur yang masak penuh dan biji merupakan makanan yang menyembuhkan dalam masalah ilmiah dan bisa dimakan dengan hemat. dessy susilawati Hidangan Ikan dan Burung Sebagai Obat Pada abad 17 M, seorang penulis asal Turki, Evliya Celebi mengungkapkan ada beberapa jenis daging burung dan ikan yang biasa diberikan kepada pasien di Rumah sakit Fatih Sultan Mehmet Han Mental dan di rumah sakit Bayezid di Edirne. Daging burung dan ikan itu disajikan sebagai obat. “Makanan lezat dari daging burung disediakan kepada pasien setiap dua kali sehari,” papar Prof Nil sari mengutip pernyataan Evliya Celebi. Beragam jenis daging burung berkhasiat obat yang biasa dihidangkan untuk para pasien itu antara lain; ayam hutan, burung bulbul, burung pipit dan burung dara. Daging burung itu dimasak dan dihidangkan untuk penderita cacat dan merawat orang sakit. Menurut Prof Nil Sari, daging atau lemak bisa diterapkan untuk obat luka luar dan dalam.Selain itu, daging burung juga bisa digunakan untuk merawat penyakit otot dan sistem kegelisahan serta meningkatkan kejantanan. Masing-masing spesies burung memiliki efek yang berbeda-beda . Contohnya, daging bebek bisa mengobati suara serak, menghilangkan gas dalam perut, meningkatkan kejantanan, dan menggemukkan dan memperkuat badan, ini juga baik untuk membebaskan perasaan sakit berasal dari lemak. Lemak bebek membersihkan dan mempercantik kulit. Burung atau unggas kadang dimasak dengan rempah-rempah dan tumbuhan obat. Kaldunya dapat dibuat dari ayam muda, ayam betina atau ayam jantan nutrisi keduanya dalam substansi dan sebuah pengobatan, saat otak, testicles dan kotoran badan sedang diobati. Ayam jantan paling baik ayam yang belum bisa kukuruyuk dan ayam betina paling baik itu yang belum menghasilkan telur. Tak hanya itu, jenis ikan, seperti goby, turbot, belut, gurame, bass laut, tombak, mullet merah, ikan laut plaice, ikan biru, ikan air tawar, picarel, mullet abu-abu, ikan lidah, two-banded air tawar, bonito, ikan mackerel dan trout, dan juga ikan lumba-lumba bisa digunakan sebagai obat. Jenis ikan yang paling baik untuk pengobatan adalah mullet merah, goby dan ikan kalajengking. “Ini semua tertuang dalam buku medis dalam era Peradaban Islam. Yakni tentang ikan merupakan makanan yang paling baik, di mana mereka menangkap, bagaimana memasak mereka, dan dengan makanan apa ikan harus dimakan atau tidak,” jelas Nil Sari. Nil Sari menambahkan sejak ikan memiliki sifat dingin secara alami maka memiliki sifat tenang dengan humours panas dan dengan demikian memiliki efek bermanfaat dalam kasus penyakit alami panas. “Contoh, ikan baik untuk batuk kering, penyakit kuning, kelemahan, disentri dan fissurations. Telur ikan memperbaiki kejantanan dan baik untuk batuk dan disentri,” ujar Prof Nil Sari. she

Sumber :
http://akupunyacerita.wordpress.com/

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam menegakkan kebenaran dan menetapi kesabaran. (QS 103 Al-Ashr : 1-3).

Web ini sedang dalam pembangunan. Maaf dech bila masih banyak kekurangan ma’lum masih belajar. Makasih buat mas Bahtiar. yang lewat tulisanya sehingga saya bisa coba mengedit web ini. Wassalam.

Muhammad al-Fatih
Sultan Mehmed II (bahasa Turki Ottoman: محمد ثانى Meḥmed-i sānī, bahasa Turki: II. Mehmet, juga dikenal sebagai el-Fatih (الفاتح), “sang Penakluk”, dalam bahasa Turki Usmani, atau, Fatih Sultan Mehmet dalam bahasa Turki; 30 Maret 1432 – 3 Mei 1481) merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawaduk setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di Ain Jalut melawan tentara Mongol).
Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.
Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.
Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh. Hanya Sultan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.
Kutipan atas Mehmed II
• “Konstantinopel akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja & tentaranya adalah sebaik-baik tentara” (Nabi Muhammad)
• “Aku mendengar baginda Rasulullah S.A.W mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut & aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda” (Abu Ayyub al-Anshari kepada panglima Bani Umayyah)
Didahului oleh:
Murad II
Murad II Sultan Utsmaniyah
1444–46
1451–81 Digantikan oleh:
Murad II
Bayezid II
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Mehmed_II”
Kategori: Sultan Ottoman | Kelahiran 1431 | Kematian 1481

Muhammad Al Fatih( The Conqueror)
Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Jika anda terkagum-kagum dengan penggambaran perang yang ketat antara Balian of Ibelin melawan Shalahudin Al-Ayyubi di film Kingdom of Heaven [resensi Priyadi], maka perang antara Constantine XI Paleologus dengan Muhammad Al-Fatih jauh lebih ketat, tidak hanya dalam hitungan hari tapi berminggu-minggu.

Kekaisaran Romawi terpecah dua, Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Orthodoks di Byzantium atau Constantinople yang kini menjadi Istanbul. Perpecahan tersebut sebagai akibat konflik gereja meskipun dunia masih tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban. Constantine The Great memilih kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibukota, dengan alasan strategis di batas Eropa dan Asia, baik di darat sebagai salah satu Jalur Sutera maupun di laut antara Laut Tengah dengan Laut Hitam dan dianggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu.

Yang mengincar kota ini untuk dikuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, Arab-Muslim dan Pasukan Salib meskipun misi awalnya adalah menguasai Jerusalem. Arab-Muslim terdorong ingin menguasai Byzantium tidak hanya karena nilai strategisnya, tapi juga atas kepercayaan kepada ramalan Rasulullah SAW melalui riwayat Hadits di atas.

Wilayah Konstantinopel

Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn.

Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Crusader yang bengis dan sadis (Dracula karya Bram Stoker adalah terinsipirasi dari tokoh ini). Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani.

Sejak Sultan Murad I, Turki Utsmani dibangun dengan kemiliteran yang canggih, salah satunya adalah dengan dibentuknya pasukan khusus yang disebut Yanisari. Dengan pasukan militernya Turki Utsmani menguasasi sekeliling Byzantium hingga Constantine merasa terancam, walaupun benteng yang melindungi –bahkan dua lapis– seluruh kota sangat sulit ditembus, Constantine pun meminta bantuan ke Roma, namun konflik gereja yang terjadi tidak menelurkan banyak bala bantuan.

Constantine XI Paleologus

Hari Jumat, 6 April 1453M, Muhammad II atau disebut juga Mehmed bersama gurunya, Syaikh Aaq Syamsudin, beserta tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Byzantium dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 ribu pasukan dan meriam buatan Urban –teknologi baru pada saat itu– Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.

Kota dengan benteng 10m-an tersebut memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.

29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari. Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.

Konstantinopel telah jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah –terutama sekolah untuk kepentingan administratif kota– secara gratis, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan, bahkan rumah diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Byzantium tersebut. Hingga akhirnya kota tersebut diubah menjadi Istanbul, dan pencarian makam Abu Ayyub dilakukan hingga ditemukan dan dilestarikan.

Dan kini Hagia Sophia yang megah berubah fungsi menjadi museum.

Sumber: Alwi Alatas: Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel, Penerbit Zikrul Hakim, 2005
posted by danielle ndarusi saat 02:10
category: history of Islam